Beranda » Kumpulan Artikel » BUDAYA KERJA

BUDAYA KERJA

Sementara pada pascareformasi belum ada proses egalitarianisme SDM yang dibutuhkan oleh struktur bangsa yang dapat memperkuat kemandirian bang sa. Pada era reformasi yang terjadi barulah relatif tercipta reformasi politik dan belum terjadi reformasi ekonomi yang substansial terutama dalam memecahkan problem struktural seperti telah diuraikan di atas. Sistem politik multipartai yang telah terjadi dewasa ini justru menciptakan oligarki partai untuk mempertahankan kekuasaan. Pemilu 1999 yang konon merupakan pemilu paling demokratis telah menciptakan oligarki politik dan ekonomi. Oligarki ini justru bisa menjadi alasan mengelak terhadap pertanggungjawaban setiap kegagalan pembangunan.

Dengan demikian, pada era reformasi dewasa ini, alokasi SDM masih belum mampu mengoreksi kecenderungan terciptanya konsentrasi ekonomi yang memang telah tercipta sejak pemerintahan masa lalu. Sementara di sisi lain Indonesia kekurangan berbagai keahlian untuk mengisi berbagai tuntutan globalisasi. Pertanyaannya sekarang adalah bahwa keterlibatan Indonesia pada liberalisasi perdagangan model AFTA, APEC dan WTO dalam rangka untuk apa? Bukankah harapannya dengan keterlibatan dalam globalisasi seperti AFTA, APEC dan WTO masalah kemiskinan dan pengangguran akan terpecahkan.
Dengan begitu, seandainya bangsa Indonesia tidak bisa menyesuaikan terhadap pelbagai kondisionalitas yang tercipta akibat globalisasi, maka yang akan terjadi adalah adanya gejala menjual diri bangsa dengan hanya mengandalkan sumberdaya alam yang tak terolah dan buruh yang murah. Sehingga yang terjadi bukannya terselesaikannya masalah-masalah sosial ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi, tetapi akan semakin menciptakan ketergantungan kepada negara maju karena utang luar negeri yang semakin berlipat.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi tuntutan globalisasi seyogyanya kebijakan link and match mendapat tempat sebagai sebuah strategi yang mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan pendidikan. Namun sayangnya ide link and match yang tujuannya untuk menghubungkan kebutuhan tenaga kerja dengan dunia pendidikan belum ditunjang oleh kualitas kurikulum sekolah yang memadai untuk menciptakan lulusan yang siap pakai. Yang lebih penting dalam hal ini adalah strategi pembangunan dan industrialisasi secara makro yang seharusnya berbasis sumberdaya yang dimiliki, yakni kayanya sumberdaya alam (SDA). Kalau strategi ini tidak diciptakan maka yang akan terjadi adalah proses pengulangan kegagalan karena terjebak berkelanjutannya ketergantungan kepada utang luar negeri, teknologi, dan manajemen asing. Sebab SDM yang diciptakan dalam kerangka mikro hanya semakin memperkuat proses ketergantungan tersebut.

Bangsa Indonesia sebagai negara yang kaya akan SDA, memiliki posisi wilayah yang strategis (geo strategis), yakni sebagai negara kepulauan dengan luas laut 2/3 dari luas total wilayah; namun tidak mampu mengembalikan manfaat sumber kekayaan yang dimiliki kepada rakyat. Hal ini karena strategi pembangunan yang diciptakan tidak membangkitkan local genuin. Yang terjadi adalah sumber kekayaan alam Indonesia semakin mendalam dikuasai oleh asing. Sebab meskipun andaikata bangsa ini juga telah mampu menciptakan SDM yang kualifaid terhadap semua level IPTEK, namun apabila kebijakan ekonomi yang diciptakan tidak berbasis pada sumberdaya yang dimiliki (resources base), maka ketergantungan ke luar akan tetap berlanjut dan semakin dalam.

Oleh karena itu harus ada shifting paradimn, agar proses pembangunan mampu mendorong terbentuknya berbagai keahlian yang bisa mengolah SDA dan bisa semakin memandirikan struktur ekonomi bangsa. Supaya visi tersebut pun terjadi di berbagai daerah, maka harus ada koreksi total kebijakan pembangunan di tingkat makro dengan berbasiskan kepada pluralitas daerah. Dengan demikian harapannya akan tercipta SDM yang mampu memperjuangkan kebutuhan dan penguatan masyarakat lokal. Karena untuk apa SDM diciptakan kalau hanya akan menjadi perpanjangan sistem kapitalisme global dengan mengorbankan kepentingan lokal dan nasional.

Dalam kamus besar bahasa indonesia etos kerja didefinisikan sebagai semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Etos kerja sendiri menandakan suatu identitas masyarakat karena etos kerja timbul dari pembangunan system budaya dari komunitas yang ada.

Kondisi lingkungan tempat dimana suatu masyarakat tinggal sangat mempengaruhi kualitas SDM yang ada, sehingga kita bisa mem-bedakan dari sisi motifasi seseorang membangun sumber daya manusia. Mungkin kita sering membandingkan kenapa kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan Negara-negara tetangga terdapat perbedaan yang sangat mencolok.

Menurut pemaparan AnasSaidi,“ untuk membangun masyarakat yang berkebudayaan, elemen masyarakat itu harus konsisten mentaati aturan yang sudah menjadi ketetapan (kesepakatan-red)” sehinga akan terbangun masyarakat yang mem-punyai kebudayaan yang mapan, dan dari kebudayaan yang mapan akanmembentuk kualitas sumber daya manusia

Kondisi budaya sangatlah berpengaruh terhadap pembangunan psikologi masyarakat karena sebagi-an besar karakteristik jiwa seseorang dipengaruhi kondisi lingkungan sosial-budaya masyarakat yang ada. Ketika masyarakat berada pada kondisi lingkungan yang berbeda maka akan menghasilkan output yang berbeda pula walaupun di-proses pada waktu yang  bersamaan. sehingga lingkungan sangat ber-pengaruh pembentukan kualitas masyarakat.

 

Akibat Dari Proses Budaya Yang Salah

Kekuatan budaya sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan kualitas SDM, sebab budaya dapat berpengaruh secara langsung dalam proses pembentukan kualitas SDM. Kalau kita selalu mengkambing-hitamkan pendidikan sebagai proses pembentukan kualitas masyarakat itu kurang tepat, karena salah satu yang mempengaruhi baik dan tidaknya kualitas masyarakat adalah kondisi lingkungan.

Sebaik apa pun kurikulum pendidikan yang diterapkan tidak akan berhasil tanpa didukung kondisi lingkungan yang kondusif, kalau kita menghitung berapa banyak jam yang dihabiskan dalam proses belajar mengajar dengan berinteraksi dilingkungan luar sekolah, tentunya banyak waktu yang dihabiskan dalam berinteraksi di lingkungan di luar proses belajar mengajar

Pengaruh yang ditimbulkan dari proses sosialisasi budaya besar pengaruhnya dengan karakteristik seseorang, sehingga tindakan dalam pola proses penyesuaian budaya memiliki andil yang besar. Con-tohnya masyarakat yang hidup di kota besar proses kebudayaan mereka sangat beragam dan  modern, sehingga mereka  memiliki pola pemikiran yang modern, berbedadengan kehidupan di pedesaan masyarakatnya masih mempunyai sistem kebudayaan yang tradisionalis dan sedikit mempunyai filter dalam mengadopsi budaya luar sehingga pola-pola pemikiran  yang ada masih tradisionalis. Dari masing-masing contoh membawa konsekuensi yang berbeda.

Sehingga dalam hal ini budaya mempunyai andil besar dalam pembangunan SDM, karena ling-kungan (konteks budaya-red) mempunyai andil besar dalam proses pembentukan pola fikir dan tata cara kehidupan

Ketika kita melihat fakta  di lapangan tenaga kerja Indonesia masih jauh  dari harapan. Indikator ini bisa kita lihat dari pemakaian tenaga kerja Indonesia diluar negeri masih sebagian besar menjadi tenaga kasar (Buruh), kita bisa melihat di Malaysia misalnya, sebagian besar tenaga kerja yang di eksploitasi kesana sebagian besar bekerja pada pabrik elektraonik, pembantu rumah tangga, buruh bangunan.

Harapan Untuk  Menuju Perbaikan

Untuk menuju kualitas SDM yang seperti diharapkan kita tidak hanya mengandalkan peran serta pemerin-tah semata tetapi dari sudut penciptaan lingkungan yang representative dan kondisi lingkungan yang baik akan membantu pemba-ngunan kualitas

pola pemikiran yang berkembang saat ini adalah bagaimana per-cepatan pembangun-an SDM saat ini dapat terciptakan sehingga nantiya proses pembangunan akan cepat terlaksana. Dalam uraian pem-bahasan kita banyak menyingung tentang budaya dalam pengaruhnya untuk pembangunan SDM, tentunya bukan hanya sekedar suatu wacana yang berhenti begitu saja tanpa realisasi. Harapan kita semua ingin menjadikan budaya sebagai sumber pemikiran untuk pembangunan kualitas SDM.

Pernahkah Anda mengalami kejadian yang membingungkan dan menyakitkan di lingkungan kerja? Ternyata memang menurut penelitian ada beberapa hal yang menyebabkan kebingungan dan bahkan menyakitkan di lingkungan kerja kita. Pada artikel ini saya akan mengajak pembaca untuk membahasnya satu per satu, supaya sedapat mungkin kita hindari bersama.

Jill Janov, seorang konsultan pengembangan organisasi di San Fransisco, Amerika Serikat, menulis sebuah buku, yang berjudul “The Inventive Organization: Hope and Daring at Work“, yang diterbitkan pada tahun 1994 yang lalu. Jill Janov memulai bukunya dengan bab yang berjudul “Why are We Confused and Hurting at Work?” Ternyata ada tujuh hal yang dapat membuat suasana kerja yang membingungkan dan menyakitkan. Ketujuh hal tersebut ternyata adalah hal-hal yang mungkin dianggap sepele, ternyata dampaknya besar untuk organisasi. Kita akan melihat satu per satu berikut ini.

Pertama, kita sering bingung antara tujuan dan alat. Sering suatu organisasi mengalami kebingungan, apakah mendapatkan sertifikasi ISO 9000 merupakan tujuan atau alat semata. Kondisi ini juga membuat bingung para karyawan. Jika mendapatkan ISO 9000 dianggap sebagai tujuan, maka dapat dipastikan bahwa budaya kerja yang disyaratkan oleh ISO 9000 tersebut akan luntur perlahan-lahan setelah sertifikasi diperoleh. Mengapa? Karena semua merasa tujuan sudah tercapai. Tetapi jika mendapatkan ISO 9000 dianggap merupakan sebagai awal untuk menerapkan budaya kerja yang baru dan lebih baik, maka itu adalah sebagai alat, bukan sebagai tujuan. Jika ini terjadi, maka tentu akan sangat menyakitkan, mendapat ISO 9000 tetapi tidak terdapat perubahan kerja menuju perbaikan. Jadi, para pimpinan puncak perusahaan, para manajer serta karyawan harus dapat membedakan antara tujuan dan alat di dalam pekerjaan.

Kedua, kita sering kehilangan fokus. Berbagai jargon dan alat manajemen banyak tersedia saat ini. Kita sudah sering mendengar istilah-istilah seperti JIT, TQM, ERP, CRM, AHP, SPC, MBO, TPM, dan sebagainya, yang tentu saja diterangkan segala kelebihannya oleh pihak yang mengungkapkan konsep tersebut. Pertanyaannya adalah, apakah kita perlu menggunakan semua alat bantu tersebut? Atau alat bantu manakah yang memang perlu kita gunakan untuk perusahaan kita. Sering kita temukan suatu perusahaan menggunakan berbagai alat bantu manajemen yang kadang-kadang sulit dicari hubungannya satu dengan yang lain. Pada kondisi demikian, dapat dikatakan perusahaan kehilangan fokus. Jika kita kehilangan fokus, maka tentu karyawan juga akan kehilangan fokus dalam bekerja. Dampaknya adalah suasana kerja yang membingungkan, dan jika akhirnya ternyata perusahaan tidak berjalan sebagai mana yang diharapkan, maka itu menjadi menyakitkan.

Ketiga, kita sering bertindak tidak hati-hati. Sering suatu keputusan atau kebijakan diambil di dalam organisasi tanpa perhitungan yang matang. Artinya tidak memperhitungkan dampak dari keputusan tersebut. Misalnya keputusan mengenai menyusun ulang struktur organisasi perusahaan. Hal ini akan membawa dampak yang bisa kecil, tetapi bisa pula besar. Tidak ada yang salah dalam menyusun ulang struktur organisasi, asalkan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan memperhitungkan dampak yang kira-kira dapat terjadi nantinya. Sikap kurang hati-hati bisa menyebabkan kebingungan kepada para karyawan dan bisa-bisa malahan menyakitkan.

Keempat, kita sering salah menafsirkan sikap resisten. Resistensi sering diartikan sebagai suatu keengganan untuk mengikuti perubahan. Jika diteliti lebih lanjut, ternyata sikap resisten adalah sesuatu yang sifatnya umum, dan dimiliki oleh manusia. Sikap resisten sebetulnya adalah suatu sikap untuk mempertanyakan suatu perubahan, jadi bukanlah suatu keengganan. Tanpa sikap resisten, sebetulnya suatu perubahan tidak dapat disikapi dengan kritis. Jadi sikap resisten diperlukan supaya suatu perubahan dapat diartikulasikan dengan logis kepada semua pihak. Membunuh sikap resisten ini kelihatannya adalah sesuatu yang menyakitkan juga.

Kelima, kita sering memaksakan sesuatu ketimbang membangun kesepakatan bersama. Seringkali seorang atasan memerintahkan sesuatu kepada bawahannya tanpa meminta pertimbangan atau saran dari sang bawahan tsb. Membangun kesepakatan bersama memang membutuhkan waktu, tetapi sekali kesepakatan tercapai, biasanya suasana kerja menjadi menyenangkan. Tetapi, harus dilihat pula kondisi yang sedang dihadapi. Situasi genting barangkali tidak perlu didahului dengan suatu kesepakatan bersama. Tetapi, kesepakatan bersama tampaknya mutlak diperlukan pada fase perencanaan organisasi.

Keenam, kita sering berpindah dari suatu keadaan ekstrim ke keadaan ekstrim yang lain. Apakah suasana ekstrim itu? Misalnya suatu kali perusahaan memberikan keleluasaan kepada karyawannya untuk mengatur sendiri waktu kerjanya, asalkan semua target tercapai, dan tetap menjaga sejumlah jam kerja tertentu dalam seminggu. Biasanya ini dilakukan pada perusahaan konsultan, kantor akuntan, dan sejenisnya. Tetapi mungkin karena ada hal-hal yang mengganjal, maka perusahaan memutuskan untuk memberlakukan suatu kontrol yang ketat terhadap jam kerja karyawan. Jam masuk dan keluar kantor menjadi suatu patokan baku. Inilah suatu contoh berpindah dari suatu keadaan ekstrim ke keadaan ekstrim yang lain. Kondisi ini bisa dipastikan akan mengubah budaya kerja secara radikal. Biasanya sesuatu yang radikal akan meembingungkan dan bisa-bisa menyakitkan.

Ketujuh, kita sering tidak melihat hubungan antara proses dan hasil. Kita sering sangat mahir dalam menyusun tujuan dan sasaran perusahaan. Tetapi yang sulit adalah menyusun suatu rencana tindakan untuk mecapai tujuan dan sasaran tersebut. Dengan perkataan lain, tujuan, sasaran, dan proses tidak ada relevansinya. Sebagai konsultan manajemen, saya sendiri banyak menghadapi hal-hal seperti ini di klien saya. Ini memang persoalan klasik. Apa dampaknya? Bisa-bisa sasaran yang tentu saja sangat diharapkan tercapai, menjadi tidak tercapai. Ini tentu bisa menyakitkan, apalagi kalau menyangkut bonus akhir tahun karyawan.

Nah, itulah tujuh hal, yang kelihatan sangat sederhana, tetapi dapat menyebabkan kebingungan dan menyakitkan di lingkungan kerja kita. Ada baiknya ketujuh hal ini kita waspadai bersama, apakah kita sebagai pimpinan puncak perusahaan, manajer senior, atau karyawan. Bukan apa-apa, sesuatu yang sederhana sering kita lupakan, dan tahu-tahu kita sudah merasakan dampaknya.

Kondisi Kerja

  • Lingkungan Kerja. Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan mudah jatuh sakit, mudah stress, sulit berkonsentrasi dan menurunnya produktivitas kerja. Bayangkan saja, jika ruangan kerja tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadai, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada kenyamanan kerja karyawan.
  • Overload.  Sebenarnya overload ini dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif. Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya pekerjaan yang ditargetkan melebihi kapasitas karyawan tersebut. Akibatnya karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam “tegangan tinggi”. Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks dan sulit, sehingga menyita kemampuan teknis dan kognitif karyawan.
  • Deprivational stress. George Everly dan Daniel Girdano (1980), dua orang ahli dari Amerika memperkenalkan istilah deprivational stress untuk menjelaskan kondisi pekerjaan yang tidak lagi menantang, atau tidak lagi menarik bagi karyawan. Biasanya keluhan yang muncul adalah kebosanan, ketidakpuasan, atau pekerjaan tersebut kurang mengandung unsur sosial (kurangnya komunikasi sosial).
  • Pekerjaan Berisiko Tinggi. Ada jenis pekerjaan yang beresiko tinggi, atau berbahaya bagi keselamatan, seperti pekerjaan di pertambangan minyak lepas pantai, tentara, pemadam kebakaran, pekerja tambang, bahkan pekerja cleaning service yang biasa menggunakan gondola untuk membersihkan gedung-gedung bertingkat. Pekerjaan-pekerjaan ini sangat berpotensi menimbulkan stress kerja karena mereka setiap saat dihadapkan pada kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Nah, Anda yang seringkali kehilangan gairah dan semangat di kantor, coba simak cara-cara sederhana ini. Siapa tau Anda tertarik melakukannya.
1.  Istirahat

Saran yang klasik memang. Namun, jika Anda meluangkan waktu lima menit saja di tengah pekerjaan yang menumpuk, dapat memompa semangat Anda untuk kembali bekerja. Dalam waktu yang singkat itu, Anda bisa memejamkan mata sejenak dan membayangkan hal-hal yang menyenangkan.

2. Ngobrol dengan rekan kerja
Berbicara sejenak dengan orang lain membuat otak dan mood Anda selalu siaga. Lagipula berbicara membutuhkan energi sehingga melenyapkan kantuk. Aktivitas ringan yang melibatkan interaksi dengan orang lain, membuat semangat Anda tetap utuh. Asal tidak kebablasan, mengapa tidak?

3. Ngemil

Sibuk bekerja, sekalipun hanya di depan komputer, cukup menyita pikiran dan energi Anda. Tanpa Anda sadari fisik Anda akan melemah. Wajar jika tiba-tiba Anda merasa lapar, apalagi jika Anda berada di ruangan dingin ber-ac. Nah tak ada salahnya jika Anda sediakan camilan di meja Anda. Jadi, jika suatu waktu perut Anda keroncongan, camilan itu bisa membantu mengatasinya. Mengunyah camilan juga bisa jadi ajang refreshing loh, biar Anda nggak suntuk dan ngantuk. Tapi ada baiknya jika saat makan siang, jangan makan terlalu banyak karena akan membuat Anda ngantuk dan kehilangan konsentrasi.

4.  Bergerak
Gerakan ringan seperti memutar kepala ke kiri kanan, jalan di tempat, memutar tubuh ke kiri dan kanan, bermanfaat mengembalikan mood Anda yang hilang. Tubuh terasa lebih segar dan semangat Anda pun kembali lagi.

5. Ngopi
Minum kopi kurang dari tiga gelas sehari bisa mengatasi kantuk Anda. Kafein di dalamnya memperlambat proses kantuk di siang atau malam hari. Namun, cara ini disarankan untuk Anda yang memang terbiasa mengkonsumsi kopi. Jika tidak terbiasa, kopi bisa diganti susu atau energi drink lainnya.

6.  Denger musik
Nggak ada salahnya, jika sambil bekerja Anda dengarkan musik kesukaan Anda. Karena musik diyakini dapat menambah semangat dan vitalitas Anda. Dengarkan dengan volume yang tak mengganggu rekan lain.
Pada dasarnya, Anda harus berusaha agar semangat dan stamina Anda tetap terjaga. Jangan biarkan kelesuan mengganggu aktivitas Anda. Sesederhana apapun itu, jika dampaknya mampu mengembalikan kegairahan Anda, lakukanlah. Nah sudahkan Anda melakukannya? Atau Anda punya cara lain?

Selamat beraktifitas.


Tulis komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tentang Aku

Tulis alamat email anda untuk mengikuti blog ini

Twitter

Statistik

  • 297 Pengunjung
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya.